rusidi 'n lina

me, my wife and my job

“high vs low” tech, yang penting TIK harus tepat guna

with one comment

Hari ini saya membaca salah satu artikel koran di kompas. Judulnya seperti judul yang di tulis diatas. Intinya dari artikel tadi adalah perjalanan perkembangan teknologi di indonesia. Sekarang saya tidak akan mengulang yang di ulas di kompas, tetapi lebih me”qiyas”kan nya dengan contoh Teknologi Infornasi dan Komunikasi sebagai obyek. Karena dalam artikel itu diambil obyek adalah teknologi dirgantara.

 

Nah..menyemanagati TIK indonesia yang dedang berbulan madu, karena laju teknologi ini yang kencang teknologi ini sangatlah prospektif. Apalagi mau tidak mau globalisasi akan menuntut untuk menyediakan perangkat yang mampu mendukung . Lihatlah raksasa ekonomi dunia sekarang. Semua amat bergantung pada kemajuan teknologi informasi. Tidak mungkin negara maju mengesampingkan pembangunan infrastruktur teknologi ini.Dan dunia usaha sama semakin besar akan sangat membutuhkan teknologi ini. Pemerintah juga ikut-ikutan. Jika pelayanan publik mau lancar silahkan gunakan teknologi informasi. Sehingga dalam jangka waktu yang beberapa tahun kedepan , tidak bisa diperkirakan betapa bergantungnya dunia keada teknologi ini.

 

Tetapi yang patut di mengerti adalah, teknologi ini baru muncul dipermukaan belum lama. Inipun diawali di negara yang memang memiliki tradisi teknologi tinggi yaitu Amerika. Yang menarik disimak adalah benarkan teknologi ini mampu melakukan ekspansi seluruh pelosok dunia??jawabnya sangat mungkin. Justru jawabanya pastinya demikian. Tetapi perlu di tanyakan lagi , Kapan??

 

Nah ini yang akan menyeret kemajuan TIK “seakan” direm. Tetapi kalo saya menyebutnya TIK “memahami” peradaban. Hal ini dikarenakan TIK berkembang karena bidang-bidang lain telah terlebih dahulu berkembang. Sehingga perlu mengunggu bidang lain mampu disupport oleh teknologi ini. Contoh nyatanya perkembangan internet. sebelum teknologi ini muncul di pasar terlebih dahulu menjadi kajian di militer AS. karena saat itu yang di anggap membutuhkannya adalah militer. Tetapi setelah pasar menghendakinya maka baru muncul dipasar. Dan misalkan microsoft yang mendunia setelah perusahaan elektronik komputer melanglang buana ke berbagai bidang. Sehingga industri perangkat lunak mengikutinya.

 

Nah sekarang di Indonesia, kita tak kuasa untuk menyebut bahwa kita butuh high tech supaya tidak disebut ketinggalan karena masih menggunakan low tech. Tetapi menghadapi kenyataan bahwa ternyata masyarakat Indonesia belum mampu menggunakan teknologi itu. Pembangunan SDM diindonesia ketetran mengimnangi kemajuan teknologi yang dikembangkan SDM luar negeri. Bahkan hanya sekedar menggunakan alias mengkonsumsi teknologi. Lihatlah di propinsi2, kabupaten, kecamatan di Indonesia. Dimanakah masyarakatnya yang welcome terhadap “high tech” dunia TIK? Jadi sekarang kita tidak usah gengsi menyebut “low tech” ga papa asalkan tepat guna. Jadi berpikir sederhana dengan tetep berusaha mengembangkan SDM kita supaya mampu kreatif mencipta teknologi untuk diri sendiri yang dinamakan teknologi tepat guna. (15/08/07) :D

Written by ucid

August 15, 2007 at 1:56 am

Posted in blog referensi

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. low tech sama high tech sama aja kok. beda huruf doang! :D

    benbego

    November 12, 2007 at 1:24 am


Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.